Blogroll

/* http://gubhugreyot.blogspot.com - cursor animasi Naga-Terbang */ ;(function(){ var msg = "gubhuhreyot-blogspot-com*bgsGR*"; var size = 18; var circleY = 0.7; var circleX = 2; var letter_spacing = 5; var diameter = 14; var rotation = 0.2; var speed = 0.5; if (!window.addEventListener && !window.attachEvent || !document.createElement) return;msg = msg.split('');var n = msg.length - 1, a = Math.round(size * diameter * 0.208333), currStep = 20,ymouse = a * circleY + 20, xmouse = a * circleX + 20, y = [], x = [], Y = [], X = [],o = document.createElement('div'), oi = document.createElement('div'),b = document.compatMode && document.compatMode != "BackCompat"? document.documentElement : document.body,mouse = function(e){ e = e || window.event; ymouse = !isNaN(e.pageY)? e.pageY : e.clientY; xmouse = !isNaN(e.pageX)? e.pageX : e.clientX;}, makecircle = function(){ if(init.nopy){ o.style.top = (b || document.body).scrollTop + 'px'; o.style.left = (b || document.body).scrollLeft + 'px';}; currStep -= rotation; for (var d, i = n; i > -1; --i){ d = document.getElementById('iemsg' + i).style; d.top = Math.round(y[i] + a * Math.sin((currStep + i) / letter_spacing) * circleY - 15) + 'px'; d.left = Math.round(x[i] + a * Math.cos((currStep + i) / letter_spacing) * circleX) + 'px';};}, drag = function(){ y[0] = Y[0] += (ymouse - Y[0]) * speed;x[0] = X[0] += (xmouse - 20 - X[0]) * speed; for (var i = n; i > 0; --i){ y[i] = Y[i] += (y[i-1] - Y[i]) * speed; x[i] = X[i] += (x[i-1] - X[i]) * speed;}; makecircle();},init = function(){if(!isNaN(window.pageYOffset)){ymouse += window.pageYOffset; xmouse += window.pageXOffset;} else init.nopy = true;for (var d, i = n; i > -1; --i){ d = document.createElement('div'); d.id = 'iemsg' + i;d.style.height = d.style.width = a + 'px'; d.appendChild(document.createTextNode(msg[i]));oi.appendChild(d); y[i] = x[i] = Y[i] = X[i] = 0;}; o.appendChild(oi); document.body.appendChild(o);setInterval(drag, 25);},ascroll = function(){ ymouse += window.pageYOffset; xmouse += window.pageXOffset; window.removeEventListener('scroll', ascroll, false); }; o.id = 'outerCircleText'; o.style.fontSize = size + 'px'; if (window.addEventListener){ window.addEventListener('load', init, false);document.addEventListener('mouseover', mouse, false);document.addEventListener('mousemove', mouse, false);if (/Apple/.test(navigator.vendor))window.addEventListener('scroll', ascroll, false);}else if (window.attachEvent){ window.attachEvent('onload', init);document.attachEvent('onmousemove', mouse);};})();

Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 12 Mei 2014

Pemanfaatan pemanfaatan Talas menjadi produk cemilan keripik Talas ebi (udang kering) di Kota Malang

A.    KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah kami ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan Rahmat, Taufiq, serta Hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pemanfaatan pemanfaatan Talas menjadi produk cemilan keripik Talas ebi (udang kering) di Kota Malang ” ini dengan baik.
            Harapan saya semoga makalah ini bisa memberikan manfaat bagi para pembaca. Sehingga dengan proposal tentang “ Pemanfaatan pemanfaatan Talas menjadi produk cemilan keripik Talas ebi (Udang Kering) di Kota Malang ” ini kita bisa memberikan sedikit ilmu dan pengetahuan pada para pembaca.
            Saya juga mohon maaf apabila ada kesalahan yang  sengaja maupun tidak sengaja, karena manusia tidak pernah lepas dari kesalahan. Kritik dan saran membangun dari anda selalu saya tunggu, agar kedepannya kami bisa lebih baik dalam penyusunan makalah.



                                                                         Malang, 10 Mei 2014

                                                                                           Penyusun,         





B.     LATAR BELAKANG
Sekarang ini banyaknya pengangguran di Indonesia diakibatkan kurang tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai sehingga diperlukannya terobosan-terobosan baru dalam menciptakan peluang kerja. Namun, bukan hal yang mudah bagi masyarakat untuk menciptakan peluang-peluang tersebut dikarenakan kurangnya pendidikan serta keterampilan. Salah satu alternative yang paling banyak dilakukan masyarakat terutama masyarakat menengah ke bawah adalah dengan membuka usaha kecil-kecilan. Sebenarnya usaha kecil-kecilan tersebut sudah membuka peluang usaha yang besar apabila dikelola dengan baik. Pada kenyataannya tidak sedikit yang mengalami kegagalan. Hal ini dikarenakan kurangnya keterampilan dalam menentukan peluang usaha dengan kondisi daerah yang dijadikan sasaran dalam berusaha. Tentunya diperlukan keterampilan membaca peluang usaha sehingga usaha yang akan dijalani sesuai dengan permintaan sasaran dalam berusaha.
Di Kota Malang, salah satu peluang usaha yang masih terbuka lebar adalah usaha di bidang makanan ringan. Hal ini dilihat dari tingginya tingkat konsumsi masyarakat. Namun, penggunaan bahan-bahan yang sering ditemukan di Kota Malang dengan kapasitas yang banyak seperti umbi talas jarang digunakan. Selama ini pemanfaatan talas terbatas sehingga tidak jarang dijadikan makanan ternak dikarenakan rendahnya harga jual talas. Bahkan hanya menumpuk menjadi sampah organik. Selain itu, produk olahan talas yang ada cenderung menimbulkan kejenuhan masyarakat dikarenakan kurangnya inovasi dalam kualitas rasa dari produk olahan yang ada selama ini. Untuk itu diperlukannya produk alternative agar dapat memenuhi permintaan masyarakat.
Dengan adanya produk olahan dari umbi talas berupa keripik Talas ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternative bagi masyarakat sebagai produk cemilan yang memiliki nilai gizi yang tinggi baik gizi yang berasal dari umbi talas maupun dari ebi/udang kering. Selain itu dapat meningkatkan nilai ekonomis dari talas dan dapat menjadi salah satu alternative peluang usaha sehingga akan terciptanya lapangan pekerjaan baru.
Dalam 100 gram talas kukus tanpa bumbu, terdapat 142 kalori. Mayoritas kalori berasal dari karbohidratnya. Hebatnya, dalam 100 gram itu lemaknya cuma 0,75 gram,  sedangkan seratnya sebanyak 5,3 gram. Jumlah ini sudah memenuhi 20,5% kebutuhan serat Anda dalam sehari. Serat sangat bagus untuk memperlancar kerja pencernaan.
Talas merupakan tumbuhan yang 90% bagiannya dapat dimakan. Daun, tangkai daun, pelepah, umbi induk dan umbi anakan dapat dimakan. Bagian yang tidak dapat dimakan hanyalah akar-akar serabutnya.
Manfaat utama umbi talas adalah sebagai bahan pangan sumber karbohidrat.  Di Kabupaten Sorong Irian Jaya talas dimakan sebagai makanan pokok. Di daerah lain talas dimakan sebagai makanan tambahan setelah diolah menjadi macam-macam masalkan atau dimakan begitu saja sebagai talas rebus, talas kukus atau talas goreng.
Talas juga dapat diambil tepungnya untuk dipakai sebagai pengganti tepung terigu. Di Filipina dan Columbia talas dibuat kue-kue, sedangkan di Brazil dijadikan roti.

C.    PERUMUSAN MASALAH
  Berdasarkan latar belakang diatas, dapat ditarik suatu perumusan masalah yaitu :
1.      Bagaimana pengolahan umbi talas menjadi keripik Talas sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomis talas ?
2.      Bagaimana cara pemasaran produk cemilan keripik Talas sebagai produk baru di masyarakat ?

D.    TUJUAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai yaitu :
1.      Meningkatkan nilai guna dan nilai ekonomis talas terutama umbi talas.
2.      Menciptakan peluang usaha bagi mahasiswa di Kota Malang.
3.      Menyediakan dan memperkenalkan produk inovasi dari talas untuk memenuhi permintaan konsumen di Kota Malang.

E.     LUARAN YANG DIHARAPKAN
Diharapkan melalui kegiatan ini, talas dapat dimanfaatkan secara maksimal sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomisnya dengan dihasilkan barang komersial serta dapat menjadi salah satu peluang usaha yang memiliki prospek yang baik dan dapat meningkatkan kesejahteraan.
F.     KEGUNAAN
Kegunaan diadakannya kegiatan program ini adalah untuk :
1.      Membangun jiwa wirausaha bagi mahasiswa, sehingga dapat melihat peluang dan memanfaatkannya menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis.
2.      Memanfaatkan talas sehingga memiliki nilai jual yang tinggi
3.      Membuka peluang usaha bagi masyarakat yang ingin menciptakan lapangan kerja.

G.    GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA
1)      UBI JALAR
Ubi jalar dinobatkan sebagai ‘juara satu’ dalam ‘kompetisi’ kekayaan nutrisi kelompok sayur-sayuran. Hal ini ‘diumumkan’ oleh asosiasi nutrisionis Amerika Serikat, beberapa waktu lalu. Khususnya, ubi jalar kaya akan karbohidrat kompleks sehingga energi tidak sekaligus terlepas, melainkan secara berkala. Selain itu, dalam setiap butir ubi jalar ukuran sedang, kandungan vitamin A-nya hampir dua kali lipat dari yang disarankan dikonsumsi setiap hari. Warna ungu pada ubi jalar ungu adalah zat antioksidan yang membantu tubuh menangkal radikal bebas.  
Untuk memenuhi kebutuhan vitamin C setiap hari, 42% bisa tercukupi dari mengonsumsi ubi jalar. Bahkan, beta carotene ubi jalar adalah 4 kali lipat dari yang dibutuhkan. Bila dimakan bersama kulitnya (tentunya setelah dicuci bersih), ubi jalar rebus mengandung lebih banyak serat dibanding oatmeal. Kalorinya? Hanya 130-160. Jadi, cocok buat Anda yang sedang menjaga berat badan. Dengan catatan, ubi jalar direbus tanpa tambahan apa pun.
Ubi jalar pun sempurna bagi ‘ransum’ Anda yang menderita diabetes, karena kandungan indeks glikemiknya rendah. Karena ubi jalar tercerna perlahan di dalam lambung, gula darah meningkat pelan-pelan. Efeknya, Anda kenyang lebih lama. Karena keunggulan ini,  makin banyak orang di berbagai belahan dunia yang menempatkan ubi jalar dalam daftar sumber karbohidrat dalam program diet mereka.
Diet South Beach yang terkenal di Amerika Serikat, misalnya, ‘menerima’ ubi jalar dalam daftar bahan pangan layak konsumsi. Begitu pula diet Atkins, yang merekomendasikan hanya 10 gram karbohidrat. Ubi jalar kukus disarankan untuk menggantikan nasi, kentang ataupun jagung rebus. Pada diet Sugarbusters, konsumsi ubi jalar sangat dianjurkan untuk menggantikan bahan pangan kaya gula dan karbohidrat, seperti nasi, pasta, dan jagung.
Secara umum, karbohidrat kompleks pada umbi-umbian dapat membantu pria dalam menjaga stamina bercinta. Apabila diolah tanpa digoreng, tanpa gula, tanpa MSG, tanpa lemak trans (seperti pada margarin), dan lain-lain, umbi-umbian dapat membantu Anda mengatasi selulit. Hebatnya lagi, prebiotik, yang tenar ada dalam produk-produk susu,  sebetulnya juga dapat dijumpai pada ubi jalar, umbi dahlia, bawang merah, bawang putih, asparagus, pisang, artichoke, dan kedelai. Prebiotik berguna untuk membantu stimulasi pertumbuhan bakteri baik probiotik, Bifidobacteria, dan Lactobacili di dalam usus. Berkat para bakteri baik tersebut, daya tahan usus terhadap serangan mikroorganisme penyakit, meningkat. Pendeknya, prebiotik dapat mengurangi frekuensi diare.
Selain itu, prebiotik bisa mengusir zat-zat racun penyebab kanker (antikarsinogenik) dan melawan mikroba pengganggu (antimikrobial). Kabar baik lainnya, prebiotik membantu menyerap mineral serta mengatur keseimbangan kadarnya di dalam tubuh. Dengan begitu, Anda pun terhindar dari osteoporosis
2)      TALAS (Colocasia esculenta (L.) Schott )
Talas merupakan tanaman pangan berupa herba menahun. Talas termasuk dalam suku talas-talasan (Araceae), berperawakan tegak, tingginya 1 cm atau lebih dan merupakan tanaman semusim atau sepanjang tahun. Asal mula tanaman ini berasal dari daerah Asia Tenggara, menyebar ke China dalam abad pertama, ke Jepang, ke daerah Asia Tenggara lainnya dan ke beberapa pulau di Samudra Pasifik, terbawa oleh migrasi penduduk. Di Indonesia talas bisa di jumpai hampir di seluruh kepulauan dan tersebar dari tepi pantai sampai pegunungan di atas 1000 m dpl., baik liar maupun di tanam.

Di Indonesia, talas dikonsumsi sebagai makanan pokok dan makanan tambahan. Talas mengandung karbohidrat yang tinggi, protein, lemak dan vitamin.
 Talas mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi. Umbi, pelepah dan daunnya banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan, obat maupun pembungkus. Daun, sisa umbi dan kulit umbi dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan secara langsung maupun setelah difermentasi. Tanaman ini mempunyai keterkaitan dengan pemanfaatan lingkungan dan penghijauan karena mampu tumbuh di lahan yang agak berair sampai lahan kering.

Manfaat Dan Khasiat
Selain sebagai sumber karbohidrat pengganti beras, talas dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan.  Bubur talas dapat melancarkan pencernaan sehingga dapat dikonsumsi untuk makanan bayi dengan tingkat alergi yang rendah. Bubur akar rimpang talas dipercaya sebagai obat encok, cairan akar rimpang talas dapat digunakan sebagai obat bisul.
Orang yang makanan pokoknya talas seperti orang melanesia memiliki gigi yang lebih kuat dan bagus. Hal tersebut disebabkan makan talas dapat meningkatkan kebasaan yang lebih tinggi sehingga mulut tidak masam. Kemasaman yang tinggi merupakan salah satu penyebab rusaknya gigi, sedangkan kebasaan yang tinggi memperkecil kemungkinan rusaknya gigi, sehingga gigi menjadi kuat, sehat dan bagus
Talas juga ‘pintar’ dalam menjaga kolesterol darah tetap rendah. Bagi Anda yang sedang dalam program penyembuhan dari gangguan kolesterol dan sodium yang tinggi, talas sangat layak Anda pilih. Mengonsumsi talas dapat mencegah risiko gangguan jantung dan tekanan darah tinggi. Talas rebus tanpa tambahan apa pun, 100% bebas dari kolesterol. Kandungan sodium dalam 1 cangkir (132 gram) talas hanyalah 20 mg, atau hanya 1% dari konsumsi batasan konsumsi sodium harian.
Setiap 1 cangkir talas mengandung 11% vitamin C sumber zat antioksidan. Bila tubuh sedang rawan terkena flu, vitamin C memperkuat pertahanan tubuh dengan membantu percepatan gerak sel darah putih. Makan 1 cangkir talas juga dapat memenuhi 19% vitamin E dan 22% vitamin B6 kebutuhan harian Anda. Bersama dengan vitamin C, vitamin B6 juga membantu menjaga imunitas tubuh, sedangkan vitamin E menurunkan risiko terkena serangan jantung. Kandungan beta carotene (nutrisi setara vitamin A) pada talas bermanfaat untuk menjaga kesehatan mata, kulit, dan meningkatkan fertilitas.
Kekayaan gizi talas makin lengkap dengan muatan beragam mineral. Satu cangkir talas mengandung 10% magnesium dan fosfat, dan 13% tembaga yang kita butuhkan setiap hari. Talas juga bahan pangan sempurna, karena setiap cangkirnya mengandung 18% potasium, 30% mangan, dan kalium yang Anda butuhkan. Potasium berguna untuk menjaga kerja jantung dan tekanan darah, mangan menjadi andalan lancarnya metabolisme protein dan lemak di dalam tubuh, sementara  kalium baik untuk menjaga kesehatan jantung.
3)      EBI (UDANG KERING)
Ebi atau udang kering merupakan salah satu awetan dari udang yang diolah dengan cara perembesan dan penjemuran. Ebi digunakan sebagai penyedap rasa dalam masakan. Selain kaya akan protein hewani, ebi atau udang kering ini tahan lama sehingga dapat disimpan selama berbulan-bulan.
4)      UMBI TALAS
Umbi Talas berbentuk silinder atau lonjong sampai agak bulat. Kulitnya  berwarna kemerahan, bertekstur kasar dan terdapat bekas-bekas pertumbuhan akar. Sedangkan warna dagingya putih keruh. Kandungan kimia dalam talas dipengaruhi oleh varietas, iklim, kesuburan tanah, dan umur panen. Umbi talas segar sebagian besar terdiri dari air dan karbohidrat. Kandungan gizi yang terdapat pada 100 gram umbi talas terdapat dalam tabel berikut :
Tabel 1. Kandungan gizi talas
Kandungan gizi
Talas mentah
Talas rebus
Energi (kal)
120
108
Protein (g)
1,5
1,4
Lemak (g)
0,3
0,4
Hidrat arang total (g)
28,2
25,0
Serat (g)
0,7
0,9
Abu (g)
0,8
0,8
Kalsium (mg)
31
47
Fosfor (mg)
67
67
Besi (mg)
0,7
0,7
Karoten total
0
0
Vitamin B1 (mg)
0,05
0,06
Vitamin C (mg)
2
4
Air (g)
69,2
72,4
Bagian yang dimakan (%)
85
100


Sumber : Slamet D.S dan Ig.Tarkotjo (1980), majalah gizi dan makanan jilid 4, hal 26, Pusat   Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. 
Umbi Talas mengandung banyak senyawa kimia yang dihasilkan dari metabolisme sekunder seperti alkaloid, glikosida, saponin, essensial oil, resin, gula dan asam-asam organik. Umbi talas mengandung pati yang mudah dicerna kira-kira sebanyak 18,2% dan sukrosa serta gula pereduksinya 1,42%.
5)     
KERIPIK TALAS
Keripik merupakan salah satu makanan ringan yang memiliki peminat yang banyak. Hampir semua orang mengenal dan menyukai keripik, selama ini keripik yang dikonsumsi masyarakat kebanyakan terbuat dari tepung terigu. Adapun alat dan bahan serta cara pembuatan keripik Talas adalah sebagai berikut:
a.      Alat
Peralatan yang dibutuhkan dalam pembuatan kerupuk talas ebi adalah blender, pendingin (kulkas), kompor + minyak tanah, kuali/penggorengan, saringan air, dandang, kukusan, saringan penggorengan, pengaduk, sendok, baskom, pisau, lap, terpal, plastic, parutan/kukuran.
b.      Bahan
·         Umbi talas 15 kg
·         Ebi/udang kering 1 kg
·         Tepung 3 kg
·         Minyak goreng 5 kg
·         Bawang Merah ¼ kg
·         Bawang puith ½ kg
·         Garam secukupnya
·         Penyedap 1 bks
c.       Cara Pembuatan
1)      Menyiapkan alat dan bahan
2)      Mengupas kulit umbi talas kemudian mencucinya hingga bersih dan direndam dengan air yang ditambahkan garam dapur (NaCl) selama 30 menit agar rasa gatal dari umbi talas dapat dihilangkan kemudian ditiriskan.
3)      Mencuci ebi/udang kering hingga bersih kemudian ditiriskan menggunakan saringan kemudian ebi dihaluskan dengan menggunakan blender.
4)      Umbi talas yang sudah ditiriskan dihaluskan dengan menggunakan parutan/kukuran hingga halus.
5)      Memasukkan umbi talas, ebi, tepung terigu dan bumbu-bumbu lainnya ke dalam baskom dan dicampurkan hingga merata sehingga membentuk adonan yang dapat dibentuk.
6)      Membentuk adonan umbi talas tersebut berupa silinder/ persegi panjang.
7)      Mengukus atau merebus adonan tersebut hingga matang (sekitar 1 jam). Setelah matang, diangkat dan ditiriskan. Setelah 1 jam, adonan tersebut dimasukkan ke dalam pendingin sekitar 1 jam hingga mengeras. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengirisan dalam membuat kerupuk.
8)      Setelah mengeras, adonan diiris tipis-tipis dan kemudian dijemur hingga mengering di bawah matahari dengan di alaskan terpal plastic.
9)      Setelah dikeringkan, kerupuk singkong ebi tersebut dapat dikemas dalam bentuk kerupuk mentah atau dapat dikemas dalam bentuk kerupuk siap makan.
10)  Untuk kerupuk siap makan, setelah kering, kerupuk langsung digoreng hingga matang dan renyah. Kemudian langgsung dikemas ke dalam plastic kemasan yang ada dan diberi label di setiap kemasan.
d.      Peluang Usaha Dan Kelayakan
1.      Peluang Usaha
Produk makanan berupa kerupuk telah banyak dikenal dan dikonsumsi masyarakat. Kerupuk disukai oleh masyarakat berbagai usia baik anak-anak maupun dewasa, karena rasanya yang enak, gurih dan renyah. Melalui inovasi berupa kerupuk talas ebi yang mengandung gizi yang tinggi serta rasanya yang enak dan gurih diharapakan akan meningkatkan konsumsi masyarakat terhadap kerupuk talas ebi ini.
Talas yang berlimpah di Kota Malang ini memudahkan dalam pencarian bahan baku utama dari keripik Talas ini. Selain itu harga bahan baku yang murah dan terjangkau karena dalam suatu usaha memiliki prinsip mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari modal yang sekecil-kecilnya. Jadi dengan bahan baku utama yang murah maka biaya produksi dapat diminimalisasi namun mendapat keuntungan yang maksimal. Kelayakan dalam suatua usaha, tidak terlepas dari berbagai faktor ketersediaan bahan baku, target konsumen, tingkat persaingan produk sejenis, dll.
Berikut adalah beberapa pertimbangan factor SWOT yang bisa ditemukan dalam menganalisis keberlangsungan usaha KERIPIK TALAS. Dimana terdapat 4 faktor yang menjadi pertimbangan yaitu kekuatan (Strength), kelemahan (Weakness), Peluang (Opportunity), ancaman (Threath) adalah sebagai berikut :
FAKTOR SWOT
Usaha pembuatan kerupuk talas ebi
Kekuatan (Strength)
·         Harga produk yang murah
·         Bahan Baku yang melimpah
·         Keunikan produk
·         Kesukaan konsumen akan produk
·         Umur simpan Produk yang panjang
Kelemahan (Weakness)
·         Kurangnya ipromosi
·         Kemungkinan kemasan yang kurang menarik
Peluang (Opportunity)
·         Kesempatan biaya produksi murah
·         Peluang pasar di Bengkulu
·         Kesempatan menguasai pasar
Ancaman (Threath)
·         Standarisasi mutu
·         Kemungkinan pesaing skala besar
·         Perubahan selera masyarakat















Tabel. Faktor SWOT usaha pembuatan keripik Talas.

2. Kelayakan Usaha
Banyak cara yang dapat digunakan untuk mengetahu apakah suatu usaha tersebut layak atau tidak didirikan. Beberapa cara yang paling sering  digunakan untuk menganalisis kelayakan suatu usaha adalah dengan cara menghitung BEP dan B/C Ratio serta R/C Ratio.
a)      BEP
BEP (Break Even Point) merupakan titik dimana modal dapat kembali, bisa dalam bentuk jumlah produk maupun dalam bentuk uang.
b)     B/C Ratio
Merupakan perbandingan antara keuntungan dengan biaya produksi. Usaha dapat dikatakan menguntungkan dan layak jika B/C Ratio lebih besar dari 0 (>0).
c)      R/C Ratio
Merupakan perbandingan antara seluruh pendapatan/pemasukan dengan biaya produksi. Usaha dikatakan layak apabila R/C Ratio lebih dari 1,00 (>1,00)

Analisis usaha keripik Talas
Dalam 1 periode produksi keripik Talas akan digunakan bahan baku umbi talas sebanyak 120 kg. Dari 120 kg bahan mentah talas akan diperoleh sekitar  100 kg kerupuk talas ebi (bahan baku mengalami penyusutan sekitar 20 kg). Produk akan dikemas dalam bentuk kemasan dengan netto: 250 gram (1/4 kg) sehingga dari 100 kg produk yang dihasilkan akan diperoleh 400 bungkus dengan berat 250 gram.
Harga untuk 1 bungkus kerupuk dengan berat 250 gram adalah Rp. 8.000,- sehingga akan diperoleh pendapatan kotor di setiap periode adalah sebesar 400 bks x Rp. 8000,- = Rp 3. 200.000,-.
Adapun keseluruhan modal yang dikeluarkan di awal pendirian usaha, meliputi peralatan, bahan habis pakai, transportasi, sewa tempat, promosi, dll adalah Rp 7.741.500,- (lihat tabel 1). (Jadi, jika dihitung berdasarkan keseluruhan modal awal yang meliputi bahan habis pakai, peralatan, dan biaya lain-lain  (tabel 1) sebesar Rp 7.741.500,- maka modal akan kembali dalam waktu 2-3 bulan atau 3 kali produksi (3 periode produksi)  dengan rincian : pendapatan per produksi Rp. 2.600.000 x 3 periode = Rp. 7.800.000,-).
Untuk modal tetap (modal yang tidak perlu dikeluarkan lagi di setiap periode produksi) meliputi peralatan dan biaya lain-lain dengan jumlah Rp. 6.465.000,- (lihat tabel 1). Sedangkan modal/biaya yang perlu dikeluarkan setiap kali produksi meliputi biaya bahan habis pakai sebesar Rp. 1.276.500,- (lihat tabel 1) dan biaya susut peralatan per bulan sebesar Rp. 86.942,- (lihat tabel 2) sehingga biaya prooduksi yang dikeluarkan setiap bulannya adalah Rp. 1.363.442,-.
Pendapatan per produksi = Rp. 2.600.000,-
Pengeluaran per produksi = Rp. 1.363.442,-
Keuntungan per produksi = Rp. 1.236.558,-
a.       BEP
·         BEP volume produksi   =  
     = 1.363.442/6.500
     = 210 bungkus
Maka modal akan kembali setelah diproduksi kerupuk talas ebi sebanyak 209 bungkus. Jadi apabila dalam 1 kali produksi dihasilkan  400 bungkus kerupuk maka akan diperoleh keuntungan sebanyak 400 bks – 210 bks = 190 bks.
·         BEP Harga Produksi =
  = 1.363.442,- / 400 bks
  = Rp. 3.408,-
Jadi, harga untuk 1 bungkus kerupuk sebesar Rp. 3.408,- merupakan harga dimana biaya/modal produksi kembali sehingga untuk mendapatkan keuntungan harga per unit/ per kemasan harus di atas Rp. 3.408,-. Jadi dengan harga per bungkus Rp. 6.500,- maka diperoleh keuntungan per bungkus sebesar Rp. 6.500 -  Rp. 3.408 = Rp. 3.092,-.
b.      B/C Ratio
Keuntungan (B) yang diperoleh per bulan adalah Rp. 1.236.558,- dan biaya produksi (C) per bulan adalah Rp. 1.363.442,- sehingga diperoleh B/C Ratio = 1.236.558,- : 1.363.442,- = 0,90. Jadi dengan B/C Ratio 0,9 (di atas nol) maka usaha ini dinyatakan layak dan keuntungan yang diperoleh adalah 90 % dari biaya produksi.
c.       R/C Ratio
Seluruh pemasukan/pendapatan per bulan (R) adalah Rp. 2.600.000,- dan biaya produksi per bulan (C) Rp. 1.363.442,- sehingga diperoleh R/C Ratio = 2.600.000,- : 1.363.442,- = 1,9. Jadi dengan R/C Ratio 1,9 (di atas 1) maka usaha ini dinyatakan layak untuk didirikan. 
e.        Rencana Pencapaian
Perencanaan menajemen yang digunakan adalah general partnersip yaitu semua anggota ikut secara aktif mengoperasikan bisnis serta bersama-sama bertanggung jawab, termasuk tanggung jawab yang tak terbatas terhadap hutang-hutang bisnis. Namun dalam pelaksanaan teknis ada pembagian tugas masing-masing sesuai kesepakatan bersama. Selain itu akan diadakannya kerjasama dengan beberapa pedagang skala menengah ke bawah dan tidak menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan pengusaha skala atas untuk membantu memasarkan produk kerupuk talas  ebi ini sehingga dapat dengan cepat dikenal dan diminati oleh masyarakat.
f.       Gambaran Umum Masyarakat Sasaran
Adapun masyarakat yang akan dijadikan sasaran dalam pemasaran produk kerupuk talas ebi ini adalah masyarakat yang ada di Kota Malang terutama pada daerah :
1)      Masyarakat yang tersebar di sekitar kampus dan seluruh Kota Malang.
2)      Mahasiswa dan dosen di kampus UB.
3)      Mini Market dan warung-warung makanan yang tersebar di Kota Malang.
4)      Para pedagang makanan khas kota Malang yang tersebar di pasar-pasar tradisional di Kota Malang seperti pasar Minggu, pasar Besar, pasar Dinoyo, dll.
H.    METODE PELAKSANAAN
Pelaksanaan kegiatan usaha dilakukan di tempat usaha yang telah disewa selama 4 bulan di sekitaran kampus UB. Kegiatan akan dilakukan selama 4 bulan dan kegiatan diadakan 3 kali dalam seminggu yaitu hari rabu, sabtu dan minggu dimulai dari persiapan bahan dan peralatan, pencarian bahan baku, pengolahan bahan, pengujian, pemasaran, dll sehingga dihasilkan produk yang diinginkan. Untuk tahapan pembuatan produk dilakukan dalam bentuk periode, jadi dalam waktu 4 bulan akan diadakan 5 periode pembuatan produk sehingga dihasilkan produk yang diinginkan. Kegiatan akan dimulai dari jam 08.00 WIB sampai selesai.
Umbi talas sebagai  bahan baku dalam pembuatan kerupuk talas ebi diperoleh dari petani talas. Dalam pemilihan bahan baku harus sangat diperhatikan agar kualitas produk dapat maksimal. Untuk itu perlu dilakukan seleksi terhadap talas yang akan digunakan dalam pembuatan kerupuk talas ebi ini. Umbi talas yang dapat dijadikan sebagai bahan baku produk adalah umbi talas yang masih segar dan dagingnya berwarna putih keruh.
           Langkah-langkah pelaksanaan program sebagai berikut :
a)      Persiapan bahan baku
Adalah rangkaian kegiatan mulai dari pembelian bahan baku berupa umbi talas yang baik dan segar dari semua varietas talas yang aman dikonsumsi, didapat dari petani talas secara langsung. Selanjutnya bahan baku yang telah diperoleh kemudian di sortasi untuk menghilangkan bahan baku yang dianggap kurang baik untuk diolah, misalnya terdapat cacat, busuk dan sebagainya.
b)      Pengolahan
Tahapan ini merupakan  kegiatan mulai dari proses pengupasan bahan baku, pencucian, pengirisan, hingga bahan baku siap untuk dilakukan pengolahan.
c)      Pembuatan keripik talas ebi
Merupakan rangkaian proses pengolahan bahan mentah dari talas,  selanjutnya diolah menjadi kerupuk talas ebi yang siap untuk dikonsumsi. Kemudian akan diadakan beberapa uji untuk membuktikan apakah kerupuk talas ebi ini baik untuk dikonsumsi baik penelitian di laboratorium maupun menguji secara langsung kepada masyarakat sehingga akan diketahui respon masyarakat terhadap produk kerupuk talas  ebi ini.


d)     Paket Teknologi Produk dan Pengemasan
Dilakukan untuk mengetahui tentang teknologi produk yang dihasilkan, perkiraan daya simpan produk yang dihasilkan dan teknologi pengemasan yang sesuai dengan produk guna mempertahankan mutu dan kualitas produk. Teori yang diberikan berkaitan dengan sifat fisik dan karakteristik bahan, pengetahuan tentang pengemasan dan labeling produk.
e)      Promosi dan Pemasaran
Setelah keempat paket kegiatan diatas selesai dilaksanakan maka akan dilakukan promosi dan pemasaran yang akan dilakukan dengan beberapa cara yaitu langsung dijual kepada konsumen dan toko-toko yang banyak dikenal masyarakat atau toko-toko yang telah berkompeten dalam bidang pendistribusian makanan serta langsung menuju masyarakat sasaran yang telah ditentukan.

I. ANGGARAN BIAYA
      a.   Tabel 1 Anggaran Biaya Produksi

NO
URAIAN
JUMLAH
1
BAHAN HABIS PAKAI

a. Umbi Talas                @ Rp. 2.500,-/kg x 120 kg
Rp.    300.000,-
b. Tepung Terigu         @ Rp. 8.000,-/kg x 20 kg
Rp.    160.000,-
c. Udang Kering         @ Rp. 30.000,-/kg x 10 kg
Rp.    300.000,-
d. Bawang Merah        @ Rp. 16.000,-/kg x 4 kg
Rp.      64.000,-
e. Bawang Putih          @ Rp. 20.000,-/kg x 6 kg
Rp.    120.000,-
f. Minyak Goreng        @ Rp. 12.000,-/kg x 20 kg
Rp.    240.000,-
g. Garam                       @ Rp. 3.000,-/bks x 10 bks
Rp.      30.000,-
h. Penyedap Rasa       @ Rp 500,-/bks x 25 bks
Rp.      12.500,-
i. LPG                      @ Rp. 14.000,-/3kg x 9 kg
Rp.      42.000,-
JUMLAH
Rp. 1.268.500,-


NO
URAIAN
JUMLAH
2
PERALATAN

a. Blender                                @ Rp. 350.000,-
Rp. 350.000,-
b. Kompor                               @ Rp. 150.000,- x  3 buah
Rp. 450.000,-
c. Kulkas kecil                         @ Rp. 750.000,-
Rp. 750.000,-
d. Timbangan                         @ Rp. 75.000,-
Rp.   75.000,-
e. Kukuran                              @ Rp. 350.000,-
Rp. 350.000,-
f. Baskom  besar                    @ Rp. 45.000,- x 3 buah
Rp. 135.000,-
g. Dandang                             @ Rp. 300.000,- x 2 buah
Rp. 600.000,-
h. Kukusan                              @ Rp. 300.000,- x 2 buah
Rp. 600.000,-
i. Pisau                                     @ Rp. 20.000,- x 3 buah
Rp.   60.000,-
j. Kuali stainlees                     @ Rp. 300.000,- x 3 buah
Rp. 900.000,-
k. Saringan Plastik                  @ Rp. 15.000,- x 3 buah
Rp.   45.000,-
l. Saringan stainles                 @ Rp. 25.000,- x 3 buah
Rp.   75.000,-
m. Sendok Penggorengan     @ Rp. 15.000,- x 3 buah
Rp.   45.000,-
n. Pengaduk                             @ Rp. 10.000,- x 3 buah
Rp.   30.000,-
o. Terpal ukuran 3 x 4 mtr     @ Rp. 250.000,-
Rp. 250.000,-
p. Lap                                        @ Rp. 5.000,- x 3 buah
Rp.   15.000,-
q. Plastik Kemasan 1/4 kg     @ Rp. 25.000,-/kg x 10 kg
Rp. 250.000,-
JUMLAH
Rp. 4.980.000,-


NO
URAIAN
JUMLAH
3
BIAYA LAIN-LAIN

a. Transportasi
Rp.    450.000,-
b. Sewa tempat selama 4 bulan
Rp.    500.000,-
c. Dokumentasi
Rp.    300.000,-
d. Laporan dan penggandaan
Rp.      85.000,-
e. Promosi
Rp.    150.000,-
JUMLAH
Rp. 1.485.000,-
TOTAL KESELURUHAN DANA
Rp. 7.741.500,-

PEMASUKAN *
2,600,000


PENGELUARAN *
1,363,442


KEUNTUNGAN *
1,236,558






KET : * = DALAM 1 KALI PRODUKSI/PERIODE PRODUKSI



Sumber di ambil dari : http://rienflanelloshop.wordpress.com/ . diakses pada tanggal 10 mei 2014.