Blogroll

/* http://gubhugreyot.blogspot.com - cursor animasi Naga-Terbang */ ;(function(){ var msg = "gubhuhreyot-blogspot-com*bgsGR*"; var size = 18; var circleY = 0.7; var circleX = 2; var letter_spacing = 5; var diameter = 14; var rotation = 0.2; var speed = 0.5; if (!window.addEventListener && !window.attachEvent || !document.createElement) return;msg = msg.split('');var n = msg.length - 1, a = Math.round(size * diameter * 0.208333), currStep = 20,ymouse = a * circleY + 20, xmouse = a * circleX + 20, y = [], x = [], Y = [], X = [],o = document.createElement('div'), oi = document.createElement('div'),b = document.compatMode && document.compatMode != "BackCompat"? document.documentElement : document.body,mouse = function(e){ e = e || window.event; ymouse = !isNaN(e.pageY)? e.pageY : e.clientY; xmouse = !isNaN(e.pageX)? e.pageX : e.clientX;}, makecircle = function(){ if(init.nopy){ o.style.top = (b || document.body).scrollTop + 'px'; o.style.left = (b || document.body).scrollLeft + 'px';}; currStep -= rotation; for (var d, i = n; i > -1; --i){ d = document.getElementById('iemsg' + i).style; d.top = Math.round(y[i] + a * Math.sin((currStep + i) / letter_spacing) * circleY - 15) + 'px'; d.left = Math.round(x[i] + a * Math.cos((currStep + i) / letter_spacing) * circleX) + 'px';};}, drag = function(){ y[0] = Y[0] += (ymouse - Y[0]) * speed;x[0] = X[0] += (xmouse - 20 - X[0]) * speed; for (var i = n; i > 0; --i){ y[i] = Y[i] += (y[i-1] - Y[i]) * speed; x[i] = X[i] += (x[i-1] - X[i]) * speed;}; makecircle();},init = function(){if(!isNaN(window.pageYOffset)){ymouse += window.pageYOffset; xmouse += window.pageXOffset;} else init.nopy = true;for (var d, i = n; i > -1; --i){ d = document.createElement('div'); d.id = 'iemsg' + i;d.style.height = d.style.width = a + 'px'; d.appendChild(document.createTextNode(msg[i]));oi.appendChild(d); y[i] = x[i] = Y[i] = X[i] = 0;}; o.appendChild(oi); document.body.appendChild(o);setInterval(drag, 25);},ascroll = function(){ ymouse += window.pageYOffset; xmouse += window.pageXOffset; window.removeEventListener('scroll', ascroll, false); }; o.id = 'outerCircleText'; o.style.fontSize = size + 'px'; if (window.addEventListener){ window.addEventListener('load', init, false);document.addEventListener('mouseover', mouse, false);document.addEventListener('mousemove', mouse, false);if (/Apple/.test(navigator.vendor))window.addEventListener('scroll', ascroll, false);}else if (window.attachEvent){ window.attachEvent('onload', init);document.attachEvent('onmousemove', mouse);};})();

Pages

Kamis, 28 Februari 2013

BERANI MENJADI PUSTAKAWAN


Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Dan Perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa.

Pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Dan Pustakawan adalah pejabat fungsional yang berkedudukan sebagai pelaksana penyelenggara tugas utama kepustakawanan pada unit-unit  perpustakaan , dokumentasi dan informasi pada instansi pemerintah.

Dua alinia tersebut mengilhami UPT. Perpustakaan ITS, belum lama ini mengadakan Diskusi & Gathering bersama Para Pustakawan dan Calon Pustakawan di lingkungan ITS, dan di ikuti oleh Para Pustakawan  Politeknik Perkapan Negeri Surabaya (PPNS) dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), dengan Nara Sumber Bapak. Drs. Mansyur Sutedjo, SIP (Kepala UPT. Perpustakaan ITS), mengupas tuntas “Kebijakan Pemerintah tentang Jabatan Fungsional Pustakawan”.  Pembicara kedua Bapak. Drs. Surono, SIP, mengambil tema “Cara Cerdas Mengumpulkan Angka Kredit”.  Dan sebagai Nara sumber ketiga Bapak. Edy Suprayitno, S.S, M.Hum, dengan tema “Pengembangan Persepsi Pengumpulan dan Penilaian Angka Kredit Jabatan Funfsional Pustakawan” sebagai Moderator  Bapak. Agus Sugiyo Pranoto, S.S, M. Hum (Kasubag. Tata Usaha UPT. Perpustakaan ITS). Acara tersebut dikemas untuk mewadahi dan mengakomodasi kendala atau hambatan serta pemecahan masalah yang dihadapi oleh para pustakawan. Diskusi & gathering tersebut mengambil tema “Berani Menjadi Pustakawan” dan langsung mendapat respon para peserta “Siapa Takut” acara terasa “Familier dan Enjoy” karena Ruang Diskusi ditata apik sekaligus Grand Opening Ruang Sidang Bibliotek (lantai 2) UPT. Perpustakaan ITS, rabu 23 Oktober 2012
            Lebih lanjut Kepala UPT. Perpustakaan ITS, mengemukakan bahwa ada 2 (dua) Jabatan sebagai Pegawa Negeri Sipil (PNS), yaitu Jabatan Struktural, adalah jabatan yang secara tegas ada dalam struktur organisasi. Kedudukan jabatan struktural bertingkat-tingkat dari tingkat yang terendah (eselon IV/b) hingga yang tertinggi (eselon I/a). Contoh jabatan struktural di PNS ITS adalah: Kepala Biro, Kepala Bagian dan Kepala Sub Bagian. Jabatan struktural PNS Pusat : Sekretaris Jenderal, Direktur Jenderal, Kepala Biro, dan Staf Ahli. Sedangkan contoh jabatan struktural PNS Daerah adalah sekretaris daerah, kepala dinas/badan/kantor, kepala bagian, kepala bidang, kepala seksi. Sedangkan Jabatan Fungsional, adalah jabatan teknis yang tidak tercantum dalam struktur organisasi, tetapi dari sudut pandang fungsinya sangat diperlukan dalam pelaksansaan tugas-tugas pokok organisasi, misalnya: pustakawan, auditor (Jabatan Fungsional Auditor atau JFA), guru, dosen, dokter, perawat, bidan, apoteker, peneliti, perencana, pranata komputer, statistisi, pranata laboratorium pendidikan, dan penguji kendaraan bermotor. Jabatan Funfsional Pustakawan Diakui eksistensinya berdasarkan Kep Men-PAN  Nomor. 132/KEP/M.PAN/12/2002 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya. Keputusan tersebut diikuti Keputusan Bersama Kepala Perpustakaan Nasional RI dan Kepala Badan Kepegawaian Negara No. 23 Tahun 2003 dan No. 21 Tahun 2003. Dilengkapi Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional RI No.2 Tahun 2008,  tentang  Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya. Dan Pemerintah memutuskan dengan Undang-Undang RI Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan.
Sedang Pembicara kedua Drs. Surono, S.IP, menyampaikan tentang Cara Cerdas Mengumpulkan Angka Kredit  bahwa mencari Angka Kredit itu gampang banget atau cara pengumpulan angka kredit pustakawan itu, ternyata mudah,.! asalkan para pustakawan mau kreatif dan inovatif. Ada beberapa Strategi untuk pengumpulan angka kredit pustakawan, antara lain :, - “Menentukan target”Menargetkan pada dirinya untuk naik jabatan, 1,2 tahun atau paling lama 3 tahun. – “Membuat perencanaan kerja”,Pustakawan harus membuat rencana kerja yang baik yang menjadi tugas pokoknya dan mencatat hasilnya pada laporan kegiatan harian. Setiap kegiatan yang dilakukan dijumlahkan/dikalkulasikan pada setiap akhir bulan sampai akhir tahun dengan ini pustakawan akan dimudahkan dalam menyusun laporan DUPAK. – “Mengatur waktu”, Sadar mengatur waktu, jangan sampai dikuasai waktu,. Cara terbaik menggunakan waktu adalah segera lakukan tindakan, dan buang kemalasan. Kemauan dan pikiran harus disatukan untuk melakukan tindakan nyata.
Puskawakan Madya yang juga alumnus Universitas Indonesia tersebut juga memberikan contoh mudahnya mencari angka kredit antara lain : menulis artikel - artikel, atau mengkaji yang ada disekitar kita seperti  “menganalisis sikap dan motivasi pemustaka  yang menggunakan ruang Wi-Fi lantai 1 UPT Perpustakaan ITS”.
Untuk selanjutnya sebagai Pembicara ketiga Bapak. Edy Supayitno,SS, M.Hum, mengawali diskusinya tentang  Permasalahan pustakawan menjadi bahasan yang menarik untuk didiskusikan bersama oleh pejabat fungsional pustakawan dan calon pejabat pustakawan potensial di ITS. Kenyataan di lapangan menunjukan bahwa masih banyaknya para calon pustakawan potensial yang tidak berminat menjadi pejabat fungsional pustakawan padahal mereka memiliki ijazah ilmu perpustakaan dan juga bertugas di perpustakaan. Permasalahan lain, yaitu makin banyaknya pejabat fungsional pustakawan yang enggan melanjutkan kariernya sehingga banyak dari mereka mengalami kendala dalam jabatannya.
Peraturan yang digunakan oleh Tim Penilai dalam melakukan penilaian angka kredit Pustakawan adalah Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 132/KEP/M.PAN/12/2002 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya, dan Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya yang tertuang dalam Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008, sedangkan Angka Kredit adalah suatu angka yang diberikan berdasarkan penilaian atas prestasi yang telah dicapai oleh seorang pejabat fungsional dalam mengerjakan butir rincian kegiatan yang digunakan sebagai salah satu syarat untuk pengangkatan dan kenaikan jabatan/ pangkat dalam jabatan fungsional.
Alumnus Pasca Sarjana  Universitas Indonesia ini, membeberkan permasalahan yang ada pada Pustakawan antara lain : - Tumpang tindih pekerjaan/tugas fungsional dengan tugas struktural, - Penempatan pustakawan tidak sesuai dengan jabatan yang dipangku, - Banyaknya pustakawan “single figther” di ruang baca, - Sulitnya pengumpulan angka kredit sesuai jabatan yang dipangku,Sebagian pekerjaan pustakawan yang tidak dapat diakui/dinilai oleh Tim Penilai, - Banyak pustakawan tidak mengerti cara megerjakan DUPAK,         - Kurangnya pembinaan karier dan kreatifitas pustakawan, - Hasil diklat CPTA  tidak otomatis bisa mengajukan sebagai JFP (Jabatan Fungsional Pustakawan), - DUPAK Pustakawan lebih rinci namun kurang menguntungkan dibandingkan dengan Dosen.
Sedangkan solusi yang ditawarkan pada akhir acara diskusi tersebut kepada peserta / Fungsional Pustakawan  Calon Fungsional adalah Pustakawan diberi porsi lebih banyak tugas fungsional kepustakawanan bukan tugas struktural, - Penempatan pustakawan sesuai dengan jabatan yang dipangku, - Memberikan apresiasi pustakawan “single figther” dengan memperhitungkan semua kegiatan sesuai dengan aturan dan/atau kebijakan Tim Penilai, - Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan bidang kepustakawanan dengan pelatihan, - Memberikan kesempatan untuk pelatihan atau diskusi tentang pembuatan DUPAK, - Meningkatkan kreatifitas pustakawan, - Melakukan konversi butir kegiatan pustakawan disesuaikan dengan jenjang jabatannya,   - Pengumpulan dan Penilaian mengadopsi dari Dosen.
Pada akhir diskusi para peserta menyampaikan uneg-uneg mereka atau tanya jawab yang selama ini menjadi kendala diantaranya perbedaan pendapat pada Tim Penilai Angka Kredit dan belum sama persepsinya, DUPAK dan PAK yang sudah berumur tahun/”kedalu warsa” tahunnya, akhirnya pada penutup bahwa Acara Diskusi &  Gathering ini menarik dan baik sekali, dan perlu diagendakan agar para Pustakwan bisa saling sharing atau memberi masukan tentang dunia Perpustakaan dan Jabatan Fungsional Pustakawan.
Pada akhir pertemuan Kepala UPT. Perpustakaan ITS, menyampaikan bahwa Jabatan Fungsioanal Pustakawan ke depan sangat bagus karena sudah ada Payung Hukum dengan di tetapkan Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, kemudian akan ditetapkannya Peraturan Pemerintah tentang Standar Nasional Perpustakaan, serta ke depan adanya Sertifikasi Fungsional Pustakawan. (mud,nda,as)
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar